Nggak Serius

random stories blog

LightBlog
Responsive Ads Here

Thursday, December 28, 2017

Rasanya Menjadi Bagian dari Sebuah Kisah Nyata Pelitnya Manusia

Rasanya Menjadi Bagian dari Sebuah Kisah Nyata Pelitnya Manusia


Kata iklan, berbagi itu indah.

Kata Mamakku, berbagi itu adalah hal elok yang akan buat aku menjadi orang baik.

Namun itu hanya terjadi di duniaku, tidak pula terjadi di dunia orang lain.

Amboi, bahkan remahan rempeyek pun sukar sekali mereka bagi. Hanya remahan rempeyek itu.

Mengerikan bukan?

Ah, tidak juga.

Manusia kan tempatnya salah dan dosa. Begitulah para pemuja dosa mengajariku.

Kisah Nyata Pelit


Penggalan kata-kata di atas hanyalah sedikit dari sekian banyak hal yang mengganjal di dalam diri gue. Ada begitu banyak hal yang sampai hari ini tidak terjawab. Salah satunya adalah mengenai semangat berbagi. Yah sebenarnya sih nggak perlu semangat juga, yang penting lu ikhlas. Ya kan?

Ngomongin keikhlasan, sayangnya nggak semua orang mau atau sampai kepada titik kesadaran seperti itu. Ada kalanya rasa malas mengganggu. Malas berbagi maksudnya.

Kita seringkali merasa "siapa yang paling wajib" untuk melakukan suatu hal atau tanggung jawab, sehingga kita pun memilih untuk berdiam. Iya berdiam dan menunggu orang lain mengerjakan meskipun kita sendiri pun mampu.

Celakanya, seringkali kita tidak sadar bahwa sebenarnya diri kita lah yang sebenarnya paling diuntungkan dari suatu kondisi tertentu. Sayangnya kita enggan dan memilih orang lain untuk mengerjakannya.

Gelap Gulita di dalam Gang Tikus


Ada sebuah perjanjian tidak tertulis di dalam dunia sewa-menyewa kost. Ada sebuah mitos di mana sewa listrik untuk lampu menjadi kewajiban anak kos, namun tidak termasuk untuk pembelian lampunya.

Sayangnya mitos ini tidak berlaku di kosan gue yang dahulu. Ibu kos tidak mau mengganti lampu luar yang mati.

Padahal sih, sama-sama untung.

Harga lampu tidak seberapa, namun harga diri sebagai manusia kadang membuat kedua pihak sama-sama enggan membeli lampu kos. Itu belum termasuk kalau Ibu kos kalkulasinya matang seperti kalkulus.

Tambah runyam masalah.

Lampu luar kos sudah beberapa kali berguguran. Mati satu, tak kunjung tumbuh pengganti, kecuali ada di antara gue dan teman-teman kosan berbaik hati untuk membeli yang baru.

Namun apa daya, kami sudah lelah waktu itu.

Kami lelah menjadi tumpuan hidupnya cahaya terang di dalam gang sempit tersebut. 

No comments:

Post a Comment